Tempat Berbagi Dalam Berbagai Ilmu Pengetahuan

Artikel Filsafat Pendidikan Pragmatisme

Artikel Filsafat Pendidikan Pragmatisme 

Salam sejahtera untuk kita semua semoga segala kegiatan kita lancar dan mendapatkan manfaat yang baik untuk kita semua, sahabat sekalian, berikut adalah penjelasan singkat tentang Filsafat Pendidikan Pragmatisme serta pengertiannya yang diharapkan dapat menjadi sumber referensi yang bermanfaat bagi kita semua dan guna mempersingkat waktu maka mari kita simak bersama-sama ulasan berikut ini : 

Menurut : Kant, akal praktis telah menjadi perintis jalan pragmatisme. Pragmatisme adalah aliran filsafat modern lahir pada akhir abad 19 hingga awal abad 20. Filsafat. Filsafat ini kecenderungnya banyak mengabaikan hal- hal yang bersifat metafisik tradisional.akan tetapi lebih  banyak terarah kepada yang pragmatis pada kehidupan. Pragmatisme lahir di tengah situasi social dunia di landa problem kehidupan terutama pada urbanisabi dalam hubungannya dengan industrialisasi. Beberapa pemeran aliran pragmatismedi amerika antara lain adalah, ( Charles sanders pierce ) 1839-1914, di kenal sebagai pendiri pragmatisme di amerika yang menyebabkan lahirnya istilah “ piercian “ untuk menyebut pemikiran pragmatisme.

Pierce adalah seorang ahli Teori Logika, bahasa,komunikasi,dan teori umum tanda –tanda, sesuatu yang oleh Pierce di sebut sebagai semiotika. Selain itu ia juga mendalami logika matematika produktif luar biasa,matematika umum dan merupakan pengembangan umum dari psiko fisik monistik metafisika system evolusi. Ia lahir dalam kelas menengah yang terpelajar. Persentuhannya dengan filsafat di mulai dari usia 17 tahun, ia tertarik tentang tulisan tulisan dari Immanuel Kant, dan ia sempat menghabiskan waktunya sekitar 3 tahun dalam membuat kesimpulan. Jika efektifitas system; kant, disebutkan oleh apa yang disebut “ logika kekanak-kanakan “. Hal ini yang mendorong dirinya untuk menekuni hidupnya dengan studi penelitian logika. Dan alhasil, ia di anggap sebagai ahli logika di zamannya.

Penganut aliran pragmatis yang lainnya adalah ( William James ) seorang filosof amerika serikat, yang juga terkenal sebagai salah seorang pendiri pragmatisme, selain sebagai filosof, James juga terkenal sebagai seorang psikolog. Ia lahir di new York, tahun ( 1842-1910) kedekatannya dengan psikologi di satu sisi, dan psikologi di sisi lain menjawab penyebab utama; William James bersinggungan dengan teman-teman filsafat, serta membawanya ke karir puncak bahkan dikenal sebagai seorang filosof modern abad ke 19.

Filsafatnya dikenal lebih banyak bermain di ruang antithesis. Oleh karena itu,pemikiran filsafatnya lebih banyak berupa refleksi pemikiran filsafat sebelumnya. Dalam soal kesadaran misalnya, gagasan; James, terlihat sebagai upaya perlawanan dari adanya pandangan yang menyatakan, bahwa kesadaran tidak menyatu dengan aspek-aspek fisis. Lalu ia menyatakan bahwa kesadaran selalu terkait dengan aspek-aspek fisis, dari itulah pengalaman selalu menjadi sumber pengalaman termurni manusia. Dalam hal ini James menolak adanya kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum serta yang bersifat bersendiri-sendiri. Bagi James kebenaran selalu dapat di ubah dan di revisi oleh pengalaman murni.


Filsafat Pendidikan Pragmatisme
Filsafat Pendidikan Pragmatisme 
Dan yang ke tiga adalah ( George Herbert Mead ) memiliki periode kehidupan yang tak jauh beda dengan William James dan Charles Sanders Pierce, ia juga dikenal sebagai seorang filosof amerika yang berpengaruh khususnya dalam bidang pragmatis. Mead terlhat sebagai pakar teori social ketimbang seorang filosof. Terutama pada ketertarikannya tentang teori teori social, Mead lahir di daerah Hadley selatan, ia adalah anak seorang pendeta. Mead belajar di Oberlin dari tahun 1879-1883.kemudian,1887-1888 ia belajar di Harvard, pada seorang filosof yang bernama; Josiah Royce. Seorang yang begitu mendalami pemikiran; Hegel dan cukup berpengaruh pada diri Mead. Di kampus, Mead menjadi sosok yang naturalis yang mengagumi pemikiran Darwin, di satu sisi dan Hegel di sisi lain. 

Salah satu pemikiran Mead yang kerap menjadi perhatian adalah konsepnya tentang gesture dalam hal ini ia menulis “ gesture become significant syimbols when they implicitly arouse ih the individual making them the same responses which the explicitly arouse, or are supposed to arouse, in other individuals “ . pada dasarnya filsafat pragmatisme di pandang menengahi  pertikaian idealisme dan empirisme serta berupaya melakukan sintesis antara keduanya.

Pragmatisme mendasarkan dirinya pada metode filsafat yang memakai sebab-sebab praktis dan pikiran. Serta kepercayaan sebagai ukuran yang menetapkan nilai kebenaran, pandangan William James mengatakan: “ pragmatisme adalah sikap memandang jauh terhadap benda-benda pertama,prinsip-prinsip serta kategori-kategori yang di anggap sangat penting untuk melihat kedepan pada benda- benda terakhir berdasarkan akibat dan fakta-fakta “ 

Berdasarkan pengertian tersebut, betapa filsafat pragmatisme selalu menjadi filsafat yang selalu di dasarkan pada metode dan pendirian.ketingbang dengan doktrin filsafat yang sistematis. Oleh karena itu pragmatisme kerap pula didasari sebagai upaya upaya penyelidikan experimental berdasarkan metode sains modern.

Meskipun di anatara aliran aliran itu terdapat terdapat dua (2 ) aliran filsafat pendidikan yaitu filsafat pendidikan progresivisme dan humanism memiliki perspektif yang  berbeda. Pengaruh pragmatisme di satu sisi terlihat sangat kuat, pragmatisme senantiasa muncul jika di katakan pemikirannya itu berdasarkan   pemikiran metafisis sebagaimana metafisika tradisional yang selalu  memandang bahwa dalam hidup ini terdapat sesuatu yang bersifat absolute dan berada di luar jangkauan pengalaman pengalaman empiris. 

Seandainya; “ adikodrati memang ada, mereka mereka berasumsi bahwa manusia tidak akan mengetahui hal itu” pemikiran tersebut menunjuk epistemology pragmatisme. Sepenuhnya berbasis pendekatan empiris. Maka pragmatisme itu adalah ; pandangan yang menyatakan “ apa yang bisa di fahami itulah yang benar “ Akal, jiwa dan maetri adalah : sesuatu yang tidak dapat di pisahkan sebab hanya dengan mengalaminya  ( pengalaman ) nyata dari pengetahuan itu dapat di serap. Pengalaman menjadi parameter ketika sesuatu dapat diterima kebenarannya. Olehnya itu,para pragmatis nyaris tidak pernah mendasarkan suatu hal kebenaran. 

Menurut mereka, pengalaman yang mereka alami akan berubah jikia realitas yang mereka alami juga berubah.realitas bukanlah sesuatu yang abstraksi.sebaliknya ia hanya sebuah pengalaman transaksional yang secara konstan akan terus menerus berubah. Teguh,W.G (2011:148) menurutnya di titik inilah; William James ia berujar betapa manusia selalu hidup dalam dunia  mereka;” tutup yang terbuka”. Pandangan ini sama dengan yang di pahami oleh; John Dewey tentang konsep kebenaran. Bagi Dewey “ kebenaran tidak lebih hanya opini yang di takdirkan sebagai sesuatu yg di pandang  benar,sehingga semua orangpun kemudian berupaya menyeledikinya untuk kemudian meyakini atau menolak otoritasnya”.

Corak yang paling kuat dari pragmatisme adalah : kuatnya pemikiran tentang konsep kegunaan.makna kegunaan dalam pragmatisme lebih di tetapkan pada kebenaran sains.bukan pada hal-hal metafisik sedangkan hal hal yang perlu di ketahui harus selalu di kabarkan atau di demonstrasikan.pada pengamat yang berkwalifikasi dan berpendirian yang independen ( tidak berpihak ) para pragmatis kerab menggunakan “ apa yang kita mesti ketahui,kerablah bukan sesuatu yang mesti kita percayai” tetapi dalam sisi lain konsep kegunaan bahwa apa yang kita percayai tidak mesti menjadi hal yang mesti kita ketahui.sebab konsep kegunaan dalam fungsi kebenaran pragmatisme selalu hadir menjadi relative dan kasuistik. Sebuah kebenaran yang dipandang “ benar benar valid dan berguna,diwaktu yang lain bisa menjadi suatu hal yang sama sekali mesti di lupakan”. 

Prinsip dasar etika pragmatisme,selalu di dasarkan pada fungsi dan kegunaan terhadap fungsi dasar social.hal ini ,kerap membuat suatu penilaian bahwa etika pragmatisme dipandang memiliki kesamaan dengan konsep”etika tradisional eropa” mesti dalam pragmatisme perbedaan baik dan buruk dalam makna individu maupun  kolektif social memiliki pemisahan yang sangat mendasar. Hal ini berbeda dengan etika tradisional eropa yang nyaris tidak memiliki “pemilahan” rung etis antara ruang ruang privat dan ruang public karena semua hal telah tereksternalisasikan kedalam ruang public sepenuhnya.

Dalam sesi pendidikan bagi aliran pragmatisme penekanannya adalah pendidikan selalu di landaskan bahwa subjek  didik bukanlah objek.melaikan subjek yang memiliki pengalaman.setiap subjek didik tidak lain adalah;individu yang mengalaminya secara langsung sehingga mereka berkembang dan memiliki inisiatif dalam menghadapi problematika hidup yang mereka miliki.

Pengalaman blajar disekolah pada hakikatnya tidak berbeda dengan pengalaman belajar di luar sekolah.keduanya adalah bagian dari pengalaman hidup.disekolah,di masyarakat,di rumah, peserta didik mengalami hal yang sama dalam arti mendapat/atau memperoleh pengalaman hidup yang secara silih berganti di situasi yang berbeda beda.kecerdasan mereka senantiasa menuntun untuk berfikir jujur dan selalu berprasangka positif serata sadar bahwa setiap dari pertumbuhan dan perkembangan pada dirinya membawanya untuk hidup beradaptif secara lebih luas. Dibalik tantangan ada motivasi tersendiri.bahkan mungkin ada kesuksesan yang tertunda, dilematika itu tidak perlu di hindari yang membuat diri lemas tak sudi aktif kembali.dorongan mesti di tempatkan pada sisinya sebagai peluang untuk berbuat lebih dari biasanya.

Setiap orang dalam masyarakatnya memiliki peluang untuk melakukan kolaborasi social kemasyarakatan ia berkesempatan terlibat dalam pengambilan keputusan. Untuk mendapatkan hasil dari pendidikan yang sedang di selenggarakan perlu di pahami bahwa keputusan-keputusan sebagai prosedur akan mengalami proses perubahan dan pembaruan secara evolusi demi perbaikan.situasi-situasi social yang yang memberikan realitas secara alamiah selalu membuka ruang untuk di pikirkan secara logis dan menentukan kebenaran-kebenaran yang hakiki.

Dalam pendidikan pragmatisme ,identik dengan moderenisasi seperti sekarang guru berperan menjadi subjek didik ( siswa ). Hal ini di pandeang jauh lebih efektif dalam mengaktualisasikan pengalaman belajar.pengalaman ini semakin menumpuk pada studi pembaharuan pengetahuan dan pengembangannya yang mendasarkan pada kehidupan keseharian di lembaga persekolahan. Guru juga menjadi pengarah atau pemandu aktifitas – aktifitas peserta didik dari hal-hal yang menjadi kebutuhan mereka.

Oleh karena itu , pengajaran pragmatisme di sekolah sangat berbeda dengan  pengajaran tradisional yang selalu mesti di ruangkan.kondisi ini memiliki kesan begitu formal dan kaku ; pengajaran pragmatisme itu justru sering dilakukan di luar sekolah/kelas. Di alam terbuka, dan di berbagai tempatyang memang di senangi oleh peserta didik. Metode pembelajaran ( pengajaran) pragmatis menekannkan pengalaman sebagai pendukung keberhasilan yang paling menentukan. Oleh karena itu upaya pembelajaran selalu mengarah pada pendekatan pengalaman hidup sebagai standar pencapaian tujuan pendidikan.

System pembelajaran dengan keterlibatan langsung dalam praktik kerja, peserta didik lebih gampang mendapatkan sebuah kesimpulan ilmiah sebagai kebenaran murni. Guru senantisa menjadi pendamping selama proses pembelajaran agar efektifitas pembelajaran tetap secara berkesinambungan produktivitasnya. Kegiatan pokok guru adalah ; memeberi nasihat,bimbingan dan petunjuk – petunjuk pada peserta didik.

Materi kurikulum pendidikan pragmatisme meliputi; beberapa materi yang juga di gunakan dalam pendidikan tradisional.termasuk,seni,matematika,sejarah dan bahasa. Kebijakan sekolah selalu menjadi kebijakan liberalisme dalam artian ; meteka tidak perlu dan tidak khawatirdengan perubahan perubahan social .

bagi peserta didik perubahan adalah kenyataan hidup yang tidak mungkin dibendung,di tahan apa lagi untuk di hentikan.sehingga pendidikan meskti mengajarkan pada peserta didik cara-cara berpengetahuan melalui proses hidup keseharian peserta didik.dengan beban yang tidak produktif seperti ,menghafal,memeberikan tugas tugas yang tidak efektif yang memebuat mereka kehilangan sisi kreatif dan inofatifnya sebagai peserta didik.

Untuk kegiatan di sekolah menejer sekolah mesti mampu memfasilitasi kepentingan pembelajaran secara maksimal. Dengan tujuan agar proses belajar dapat tercipta ketekunan kerja melalui karya secara nyata .hasil kerja mereka di jadikan sebagai pengalaman hidup yang berharga. Guru harus selalu siap mendampingi peserta didik dalam kondisi apapun.guru senantiasa berupaya keras saat proses pengembangan pengetahuan diimplementsikan.

Tidak perlu sering membahas materi textbook yang begitu bias dan jauh dari realita sebagai muatan materi tapi yang mendesak adalah bagaimana materi secara ilmiah mengalir untuk memberi pengalaman pada siswa agar ia dapat secara adaptif menerima sebuah kenyataan  sampai ia mampu menemukan diri sebagai diri yang berpengetahuan yang serba potensil untuk hidup secara berkelanjutan. 

Demikianlah penjelasan singkat diatas dan masih ada artikel lain yang masih berkaian dengan artikel diatas yang mungkin bisa semakin menambah wawasan anda tentang pendidikan dan filsafatnya yakni Artikel Tentang Filsafat Pendidikan Eksisitensialisme semoga ada manfaatnya dan dapat bernilai ibadah di sisi Allah Swt dan diberi ganjaran sebagai orang yang berjihat untuk mengejar ilmu pengetahuan. aammiinn.  Terimaksaih semoga bermanfaat.

Sumber : Landasan Pendidikan Asas Filsafi
Penulis : AhKmad Nonci
Penerbit : Nala Cipta Litera, Boetta Ilmu Rumah Pengetahuan (1 Oktober 2013)

Advertisement 2

Artikel Filsafat Pendidikan Pragmatisme Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Edhokasilmu

0 komentar:

Posting Komentar