Tempat Berbagi Dalam Berbagai Ilmu Pengetahuan

8 Golongan Manusia yang Berhak Atas Zakat Fitrah


Golongan yang Berhak Atas Zakat 

Berdasarkan pada hadist riwyat Ibnu Abbas yang artinya :

“ Sesunghnya Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah pada setiap orang muslim, baik merdeka atau budak, baik laki-laki atau perempuan, baik anak-anak atau dewasa, sebanyak satu sha’ Kurma atau satu sha’ Gandum “ ( HR Muslim ).

Berdasarkan Hadist riwayat tersebut, para ulama sependapat bahwa setiap umat islam dikenai kewajiban mengeluarkan zakat fitrahnya, zakat fitrah diwajibkan kepada seseorang untuk membayarnya jika seseorang tersebut telah memenuhi syarat yakni : Islam dan mempunyai kelebihan makanan atau harta benda berupa uang dari keperluannya di malam hari Raya Idhul Fitri.

8 Golongan Manusia yang Berhak Atas Zakat Fitrah
8 Golongan Manusia yang Berhak Atas Zakat Fitrah
Pada Bidyatul Muttahid dijelaskan  ada tiga (3) syarat wajib zakat fitrah yaitu : (1) Islam, (2) menemui waktu terbenamnya matahari (3) hari penghabisan bulan Rhamadhan. Mempunyai kelebihan harta daripada keperluan makanan untuk dirinya sendiri dan untuk yang wajib dinafkahi pada saat kewajiban pembayaran zakat tersebt datang.  

Didalam pembagiannya, jumhur ulama telah bersepakat bahwa zakat harus dibagikan kepada delapan (8) Nasaf yang telah ditentukan sebagaimana Firman Allah didalam Surah At-Taubah ayat 60. 
Delapan golongan inilah yang memiliki keberhakan atas zakat tersebut dan tidak boleh diberikan kepada yang selain mereka, adapun firman Allah SWT tersebut yang artinya adalah :

“ Sesungghnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin,pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya ( untuk memerdekakan ) budak, orang-orang yang berhutang untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan sebagai suatu ketetapan Allah , dan Allah Maha mengetahui Maha bijaksana “ ( QS At-Taubah : 60 ).

- Golongan yang Berhak Atas Zakat

1. Fakir.

Artinya adalah orang-orang yang tidak mempunyai harta dan pekerjaan untuk mencukupi beban hidupnya sehari-hari.

2. Miskin 

Dari sudut pandang lain, jika dibandingkan antara keduanya ( fakir dan MIskin ) keadaannya sama , sama-sama tidak mampu, tidak berkecukupan, melarat dan sengsara, tetapi orang fakir jauh lebih melarat daripada orang miskin. Orang miskin terkadang masih mempunyai pekerjaan yang layak dibandingkan dengan orang fakir yang memang tidak memiliki pekerjaan sekalipun.

3. Amil Zakat ( pengurus zakat )

Yakni sekumpulan orang yang memiliki atau dibebani tugas untuk mengumpulkan atau memungut zakat dari mereka yang mampu untuk dibagikan kepada yang berhak atas zakat tersebut.

4. Muallafatu Qulubuhum ( orang-orang yang ditarik hatinya ), 

Artinya orang –orang yang ditarik hatinya agar supaya ia jatuh hati kepada islam dan diharapkan mau masuk islam.

Prof. Dr Buya Hamka berpendapat bahwa orang-orang yang ditarik hatinya disini dibagi menjadi dua bagian yaitu kalangan orang islam itu sendiri dan kalangan orang-orang non muslim. Beliau mengambil sample atau contoh dari kalangan muslim itu sendiri yang patut mendapatkan zakat besar ialah mereka (muslim ) yang tinggal ditapal batas , diantara negeri kuasa islam dengan negeri musuh, oleh sebab itu mereka bisa terombang ambing , apakah akan masuk islam atau masuk kepada pemerintahan orang-orang kafir. 

Sedangkan contoh dari kalangan non muslim adalah seperti yang dilakukan oleh Sahabat Rasulullah SAW khalifah Abu Bakar as-Syiddiq yang memberikan zakat yang besar kepada seorang pemuda Nasrani dan pemuda Persia yang bernama Aid bin Hakim dan Zabar Bin Badar, keduanya adalah orang yang baru masuk islam, dan dengan pemberian zakat itu untuk memperdalam pengaruh mereka dalam kelangan kaum meraka agar tertarik  kepada islam.

5. Riqob ( melepaskan/memerdekakan  perbudakan )

Pada zaman jahiliah, islam menyediakan zakat untuk menebus serta memerdekakan budak , dengan adanya “ dana Khusus “ tersebut ini menunjukkan betapa besar perhatian islam untuk melepaskan dunia dari perbudakan yang dimana hasilnya dizaman sekarang ini sudah tidak kita temui lagi hal tersebut.

6. Ghorim ( Orang yang memiliki hutang dijalan Allah )

Orang yang berhutang dan terdesak untuk membayarnya dapat melaporkan Nasibnya pada panitian zakat, baik bantuan tersebut berupa pembayaran secara keseluruhan atau hanya  sebagian.

7. Shabilillah ( orang yang berjihad ).

Para ulama terdahulu mengartikan shabilillah sebagai orang yang melakukan perjuangan perang, namun seiring dengan perkembangan zaman maka sabilillah disini jga termasuk segala usaha yang bertujuan untuk menegakkan dan mengembangkan Agama Allah, bahkan Imam Ahmad memasukkan Ibadah haji sebagai sabilillah sehingga berhak menerima zakat.

Begitu juga pendapat dari pada Sayid Hasan Shadiq Khan Bahadir bahwa ulama-ulama yang mengorbankan waktunya untuk memperdalam pengetahuannya tentang agama islam dan memimpin orang banyak juga termasuk didalam kategori orang sabililah meskipun ia kaya.

8. Ibnu Sabil ( orang yang sedang dalam perjalanan ).

Rasulullah SAW bersabda yang artinya :

“ dari Abu Said beliau berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda “ zakat itu tidak halal/pantas bagi orang kaya kecuali untuk jalan Allah atau orang yang sedang dalam perjalanan atau untuk tetangga fakir yang disedekahkan kepadanya, kemudian memberikannya lagi padamu atau ia mengundangmu ”

Orang-orang yang sedang dalam perjalanan atau melakukan perjalanan untuk menambah pengetahuan, pengalaman , persahabatan , berhak menerima zakat, jika perjalanannya untuk tujuan maksiat maka haram hukumnya diberikan dan menerima zakat meskipun orang tersebut adalah orang yang mampu.

Disisi lain terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama mengenai siapa saja yang berhak atas zakat fitrah, ada beberapa perbedaan diantaranya adalah :

1. pendapat yang mewajibkan zakat fitrah dibagikan kepada asnaf secara merata .

Pendapat ini merupakan pendapat dari golongan ulama Syafi’I, mereka menganggap zakat fitrah sama halnya dengan zakat mal, sehingga dalam pembagiannya juga diharuskan untuk sama seperti dengan zakat mal yaitu kepada kedelapan ashaf yang telah disebutkan diatas pada sutah At-Taubah tersebut.

2. pendapat yang mewajibhkan pemberian zakat fitra  dikhususkan kepada fakir saja, bukan kepada asnaf lainnya .

Pendapat ini berasal dari Imam Malik, salah satu pendapat dari Imam Ahmad, didukung oleh Ibnu Quyyim dan seorang gurunya, yaitu Qosim dan Abu Thalib. Pendapat mereka ini didsasarkan pada hadist berikut : 

“ Selamatkan mereka ( kaum fakir miskin ) dari keliling ( meminta-minta )pada hari ini “ ( HR Baihaqi dan Duruquthni ).

Menurut Ibnu Qoyyim, pengkhususan zakat fitrah kepada kaum fakir miskin saja merupakan penghargaan dari Nabi Kepada orang-orang miskin itu. Beliau menambahkan bahwa Nabi tidak pernah membagikan zakat fitrah sedikit sedikit kepada golongan yang delapan . nabi juga tidak pernah menyeruhnya tapi pada saat zakat fitrah oitu dikumpulkan, Nabi hanya membagikannya kepada dua golongan saja yaitu kepada golongan fakir dan miskin, oleh karena itu menurut Ibnu Qoyyim , zakat tidak boleh diserhkan kecuali kepada fakir dan miskin saja.

Para ulama ini juga menjelaskan pendapat mereka dengan sebuiah hadist riwayat Ibnu Abbas yang artinya :

“ Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah untuk membersihkan orang yang berpuasa dari omongan yang tidak ada menfaatnya dan omongan kotor, serta member makanan pada orang-orang miskain dan barang siapa membayarnya sebelum shalat , maka itu adalah zakat yang diterima dan barang siapa yang ,membayar sesudahnya , maka itu adalah shodaqoh “ ( HR Abu Daud dan Ibnu Majah ).

Pada hadist tersebut fungsi mengeluarkan zakat fitrah ( bandingkan dengan fungsi zakat Al-Qur-an ) salah satunya adalah member makanan kepada orang miskin yang dalam kesehariannya mengalami kesulitan untuk makan , bukan kepada asnaf lainnya.

3. pendapat yang memperbolehkan pembagian zakat kepada kedelapan asnaf tetapi lebih dikhususkan pada golongan fakir miskin. 

Pendapat ini merupakan pendapat dari Jumhur Ulama. Menurut mereka zakat fitrah dibagikan kepada delapan asnaf karena zakat fitrah termasuk zakat, jadi dapat dibagikan kepada delapan asnaf yang disebutkan dalam Qur’an Surah At- TAubah tersebut, akan tetapi akan lebih utama dalam pemberiannya  jika didahulukan kepada golongan orang-orang miskin.

Ibnu Amir Ash-San’ani mendukung pendapat ini dan berpendapat bahwa zakat fitrah hanya boleh dibagikan kepada fakir miskin saja, dalam tanggapannya mengenai hal tersebut beliau mengatakan bahwa perkataan Nabi “ fitrah itu makanan untuk orang miskin “ tetapi sekedar penekanan bahwa yang lebih utama didalam pembagian zakat fitrah  adalah kepada orang miskin , karena dalam hal zakat mal, Nabi pun bersabda : “ diambillah dari orang kaya, diberikan kepada orang-orang fakir “. Meskipun konteks hadist tersebut memerinrtahkan untuk diberikan kepada orang fakir, tetapi dalam kenyataannya zakat mal dibagikan pula kepada delapan asnaf yang lainnya sesuai dengan firman Allah didalam Qur’an Surah At-Taubah ayat 60 tersebut.

Semga kita faham dan mengerti maksud dari setiap perkara pembagian zakat diatas dan dapat mengimplementasikannya dikehidupan kita masing dan semoga segala sesuatu yang kita lakukan dapat dinilai sebagai ibadah disisi Allah Subhanahu Wataalah… aamminnn… 

Terimakasih semoga bermanfaat 


Advertisement 2

8 Golongan Manusia yang Berhak Atas Zakat Fitrah Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Edhokasilmu

0 comments:

Post a Comment

Mohon Saran dan Masukan yang Relefan untuk Blog ini pada kolom komentar. Terimakasih