Tempat Berbagi dan Berbagai Pembelajaran

15 April 2017

Cerita Rakyat Jawa Barat - Legenda Telaga Warna

Cerita Rakyat Jawa Barat - Legenda Telaga Warna 

Oleh : Daryatun

Kisah ini bercerita tentang seorang Raja dan Ratu yang memiliki seorang Putri cantik yang dimana mereka tinggal di kerajaan yang bernama Kutatanggeuhan, rakyatnya sejahtera, bahagia dan juga ramah serta penyayang, dan bagaimanakah kisah selanjudnya, mari kita simak bersama-sama.

Zaman dahulu, tersebutlah kerajaan Katatanggeuhan yang besar di Jawa Barat. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana, Prabu Suwarnalaya Namanya. Ia didampingi oleh istri yang baik budi bernama Ratu Purbamanah. Maka tak heran, kerajaan itu menjadi kerajaan yang makmur, aman dan tentram. Penduduknya hidup rukun, suka menolong, dan penuh kasih sayang. 
Tidak ada penduduk yang kelaparan di negeri itu.

Sayangnyqa sang Prabu dan Istrinya belum memiliki putra, berbagai usaha telah dilakukan, namun rupanya Tuhan belum memberi anugerah untuk mereka. Hal itulah yang membuat sang Prabu sering terlihat murung bersma istrinya. Penasihat Raja sering menyarankan agar mereka mengangkat anak. Namun, sang Prabu dan Sang Ratu tidak mau menerima usul itu.

Setiap hari sang Prabu pergi ke hutan . ia berniat untuk bertapa. Di sana, sang Prabu terus berdoa kepada Tuhan agar dikaruniahi seorang anak. Beberapa bulan kemudian, doa sang prabu terkabul. Ratu hamil. Seluruh rakyat dikerajaan itu gembira mendengarnya.

Semakin hari, kandungan sang Ratu semakin bertambah besar. Sang Ratu semakin berhati-hati menjaga kandungannya. Setlah genap Sembilan bulan, Ratu melahirkan seorang Putri. Penduduk negeri itu mengirimi putrid kecil itu aneka hadiah.

Bayi kecil itu tumbuh menjadi anak yang lucu. Bayi itu diberi nama Puti Gilang Rukmini. Belasan tahun kemudian, ia menjadi gasis yang cantik jelita. Sang Prabu dan Sang Ratu sangat menyayangi putri itu. Mereka akan memberikan apapun permintaan putrinya . Perlakuan sang Prabu dan Sang Ratu itu membuat sang Putri menjadi anak yang manja. Kalau keinginannya tidak terpenuhi , ia akan marah. Bahkan berkata kasar. Walaupun begit, orang tua dan rakyat di kerajaan itu masih mencintainya.

Hari-hari terus berlalu, putri pun tumbuh menjadi gadis yang paling cantik di Kutatanggeuhan . pada suatu hari, istana terlihat sangat sibuk. Pasalnya, beberapa hari lagi akan diadakan pesta ulang tahun sang Putri. Usia Putri akan mencapai 17 tahun. Seluruh penduduk di undang dalam pesta meriah itu.
Sebelum hari pesta, penduduk dinegeri itu berbondong-bondong datang ke istana membawakan hadiah untuk sang putrid. Aneka hadiah yang sangat indah dari penduduk itu kemudian dikumpulkan disimpan dalam ruangan istana. Raja berpendapat, jika sewaktu-waktu rakyat membutuhkan ia bisa menggunakannya. Sang prabu hanya mengambil sedikit emas dan permata dari hadiah itu. Ia kemudian membawanya ketukang ahli perhiasan.

“ tolong buatkan Kalung sangat indah untuk putriku “ Kata sang Prabu. “ baik , yang Mulia. Dengan senang hati akan saya buatkan kalung terindah untuk sang putrid “ Jawab ahli perhiasan.

Hari ulang tahunpun tiba. Penduduk negeri berkumpul di alun-alun istana. Ketika Prabu dan Ratu datang, orang menyambutnya dengan gembira. Sambutan makin hangat ketika sang Putri muncul di hadapan khalayak. Semua orang mengagumi kecantikannya.

Cerita Rakyat ( Jawa Barat / Banten ) Legenda Telaga Warna
Legenda Telaga Warna 
Sang prabu bangkit dari kursinya. Kalung yang indah sudah dipeganggnya. “ putriku, terimalah terimalah kalung hadiah orang-orang  dari seluruh penjuru negeri ini. Mereka sangat mencintaimu. Mereka mempersembahkan hadiah ini, karena mereka gembira melihatmu tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik. Pakailah kalung ini Nak “. Kata sang Prabu.

Putri menerima kalung itu. Lalu ia melihat kalung itu sekilas. “ aku takmau memakainya. Kalung ni jelek !” seru sang putri. Kemudian ia melemparkan kalung itu. Kalung yang indah itupun rusak. Permatanya tersebar di lantai.

Semua orang terkejut melihatnya . tak seorang pun menyangka bahwa sang Putri akan berbuat sekasar itu. Tak seorang pun bicara. Tiba-tiba terdengar tangisan Ratu yang amat sedih melihat sikap putrinya yang kasar. Tangisan sang Ratupun diikuti oleh semua orang yang hadir. Mereka juga merasa sedih atas sikap sang putri.

Air mata dari orang-orang itu membasahi istana. Mula-mula iar mata itu membentuk kolam kecil. Lama kelamaan bertambah besar, hingga istana menjadi banjir. Istanapun dipenuhi air hingga membentuk danau. Makin lama, danau itu semakin besar. Semua orang yang menangis tak mempedulikannya. Hanya sang putrid yang berteriak –teriak ketakutan.

“ tolongg… tolongg…. Istana akan tenggelam!”. Namun orang-orang tetap tak mempedulikan teriakan itu. Mereka terus menangis. Suara sang putri pun hilang bersama tenggelamnya istana dan seluruh orang yang ada di situ. Bekas istana itu kemudian menjadi sebuah danau yang luas.

Sekarang , danau itu di sebut Telaga Warna. Pada hari-hari yang cerah, kita bisa melihat danau itu penuh dengan warna yang indah dan mengagumkan. Warna itu berasal dari bayangan hutan, tanaman,bunga-bunga dan langit disekitar telaga. Namun banyak orang mengatakan, warna-warna itu berasal dari emas dan permata kalung sang putri yang tersebar didasar telaga. 

Itulah kisah dari kerajaan yang ada di Jawa Barat yang bisa kita ambil hikmahnya bahwa memanjakan anak cukup sebutuhnya saja, jangan berlebihan sebab akan membuat anak itu sendiri menjadi anak yang tidak pintar menghargai orang lain sebab hanya dirinyalah yang dianggapnya sebagai orang yang paling dihargai dan didengarkan, tidak memiliki rasa takut dan cenderung bersifat anarkis. Masih banyak lagi contoh yang lainnya tentang tentang kejelekan sifat memanjakan anak dan yang paling utama adalah anak itu tidak bisa mandiri sebab terbiasa dengan ketergantungannya terhadap orang lain untuk memenuhi kebutuhannya yang bisa jadi akan membuat anak itu tumbuh menjadi anak yang suka mengambil hak orang lain. 

“ Terimakasih semoga bermanfaat “ 

Advertisement by Google 2

Cerita Rakyat Jawa Barat - Legenda Telaga Warna Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Edhokasilmu

0 komentar:

Posting Komentar