Tempat Berbagi dan Berbagai Pembelajaran

1 Juli 2018

Jenis - Jenis Puisi, Ciri dan Unsur - Unsur Pembangun Dalam Teks Puisi

Jenis - Jenis Puisi, Ciri dan Unsur - Unsur Pembangun Dalam Teks Puisi  

Salam sahabat pendidikan sekalian dimanapun berada, pada atrikel sebelumnya, kita telah membahas mengenai Teks Eksposisi dan kali ini ulasan selanjudnya akan membahas mengenai Jenis - Jenis Puisi dan Unsur - Unsur Dalam Teks Puisi yang diharapkan dapat membantu anda dalam proses belajar atau mengajar didalam proses pendidikan dan untuk lebih jelasnya mari kita simak ulasan berikut ini.

A. Jenis - Jenis Puisi dalam Teks Puisi

Puisi dibedakan berdasarkan zamannya, yaitu puisi lama dan puisi baru. lebih jelasnya silahkan baca baik-baik penjelasan dibawah ini.
Jenis - Jenis Puisi, Ciri dan Unsur - Unsur Pembangun Dalam Teks Puisi
Teks Puisi
1. Puisi lama

Puisi lama merupakan peninggalan sastra melayu lama dimana puisi lama memiliki keterikatan oleh aturan-aturan, yaitu jumlah kata yang digunakan dalam satu baris, jumlah baris didalam satu bait, persajakan (rima), banyaknya suku kata dalam setiap baris, dan juga irama. Jenis-jenis puisi lama yang sering dikemukakan yakni gurindam, talibun, syair, dan pantun.
  • Gurindam adalah karya sastra berbentuk puisi dua seuntai yang berirama a-a. Meskipun terdiri dari dua lirik, sebenarnya gurinda merupakan satu kalimat yang dimana pada kalimat pertama yaitu " syarat" dan pada lirik kedua merupakan " jawaban". Pada umumya, gurindam dibuat secara berbait-bait dengan isi yang bersifat nasihat seperti pada pepatah atau pribahasa.

    Ciri-ciri gurindam adalah setiap bait terdiri atas dua lirik, jumlah suku katanya terdiri dari 10-14 suku kata, bersajak a-a, dan hubungan antara lirik pertama dan lirik kedua  membentuk kalimat majemukyang biasanya memiliki memiliki sifat sebab akibat.

  • Talibun hampir sama atau memiliki kemiripan dengan Pantun. Letak perbedaannya terdapat pada jumlah barisnya. Kebanyakan talibun memiliki enam sampai delapan baris. Jika talibun terdiri atas enam baris dimana 3 baris pertama adalah merupakan sampiran dan 3 baris selanjudnya merupakan isi. Sementara itu, jika terdiri atas delapan baris, empat baris pertama adalah sampiran dan empat baris selanjudnya merupakan isi. Begitu seterusnya untuk talibun sepuluh dan dua belas baris.

    Ciri-ciri talibun adalah selalu memiliki jumlah baris yang selalu genap yaitu 6,8,10 dan 12 baris dan terdiri atas dua bagian, yaitu setengahnya merupakan sampiran dan setengahnya lagi merupakan isi; sajak-sajaknya silang, misalnya (abc-abc) atau (abcd-abcd) dan memiliki perumpamaan seperti pada pantun, yaitu alam dan lingkungan sekitar.

  • Syair adalah salah satu puisi lama yang berasal dari Persia dan dibawa masuk ke Nusantara bersamaan dengan masuknya Islam ke Indonesia. Dalam perkembangannya, syair yang asalnya dari Persia tersebut mengalami perubahan dan modifikasi sehingga menjadi khas melayu atau tidak lagi sama seperti pada tradisi sastra syair negeri Arab.

    Ciri-ciri syair adalah setiap baitnya memiliki 4 baris dan terdiri atas 8 - 12 suku kata serta memiliki sajak a-a-a-a, semua barisnya adalah isi, dan jenis bahasa yang digunakan biasanya bahasa kiasan.

  • Pantun terdiri atas dua bagian, yaitu sampiran dan isi. Sampiran berada pada dua baris pertama yang sering kali dikaitkan dengan nuansa alam dan biasanya tidak berhubungan dengan dua barus akhir yang berisikan maksud pantun, hanya sebatas berfungsi sebagai pengantar rima/sajak saja. Duan baris terakhir merupakan tujuan daripada pantun tersebut.

    Ciri-ciri pantun adalah setiap bait teridiri atas empat baris (lirik) yang terdiri dari 8 sampai 12 suku kata, rima akhir pada setiap baris adalah a-b-a-b dan baris pertama serta baris kedua merupakan sampiran, baris ketiga dan keempat merupakan isi pantun.

2 Puisi baru 

Puisi baru adalah puisi yagn lahir pada tahun duapuluhan yang memiliki bentuk lebih bebas daripada puisi lama, baik dari segi jumah barisnya, suku kata ataupun rima. Menurut bentuknya puisi baru terdiri atas delapan 8 jenis yaitu 
  • Distikon (sajak dua seuntai). 
  • Terzina (sajak tiga seuntai). 
  • Kuatren (sajak empat seuntai).
  • Kuintet (sajak lima seuntai). 
  • Sektet (sajak enam seuntai).
  • Septima (sajak tujuh seuntai).
  • Stanza ( sajak delapan seuntai) dan
  • Soneta ( Sajak empat belas seuntai).

B. Unsur -Unsur Pembangun Puisi

Pada Puisi terdapat dua unsur pembangun yakni unsur lahir ( bentuk ) dan unsur batin ( makna ). pada unsur lahir terbagi menjadi enam bagian, yaitu tipografi, diksi, imaji, kata konkret, gaya bahasa dan ruma. Pada unsur batin terbagi manjadi empat bagian, yaitu tema, rasa, nada, dan amanat / tujuan / maksud. 

a. Unsur lahir
  • Tipografi pada puisi adalah bentuk puisi, seperti halaman yang tidak harus dipenuhi dengan kata-kata dan tidak ada aturan tepi kanan tepi kiri serta tidak ada pengaturan baris sehingga baris puisi tidak selalu dimulai dengan huruf kapital atau diakhiri dengan tanda titik.
  • Diksi pada puisi adalah pilihan kata yang digunakan penyair didalam membangun puisinya. Diksi muncul dikarenakan adanya makna kias atau konotatif dan lambang (simbol) serta persamaan bunyi atau rima.
  • Imaji pada puisi adalah susunan kata-kata yang mengungkapkan pengalaman indera, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji terbagi menjadi tiga jenis yaitu imaji suara atau auditif, imaji penglihatan atau visual, dan imaji raba/sentuhan atau taktil.
  • Kata kongkret pada puisi adalah kata yang dapat ditangkap dengan indra yang memungkinkan menculnya imaji. Kata-kata ini berhubungna dengan kiasan atau lambang.
  • Gaya bahasa pada puisi adalah penggunaan bahasa yang berfungsi untuk menghidupkan / meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Gaya bahasa disebut juga dengan majas.
  • Rima pada puisi adalah bunyi yang berulang, baik pad alirik puisi maupun pada akhir lirik puisi. Irama dihadirkan oleh rima, permainan bunyi, atau gaya repetisi dimana irama berfungsi sebagai penguat keindahan puisi, memberi jiwa pada kata-kata didalam puisi dan sebagai pembakar emosi.

b. Unsur Batin 
  • Tema / makna (sense) pada puisi adalah permasalahan yang menjadi titik tolak penyair dalam penyusunan puisinya.
  • Rasa (feeling) pada puisi adalah sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat pada puisinya.
  • Nada (tone) pada puisi adalah sikap penyair terhadap pembaca.
  • Amanat/tujuan/maksud (itention) pada puisi adalah pesan yang ingin disampaikan penulis atau penyair untuk atau kepada pembaca. 

C. Cara Menulis dan Membacakan Puisi
  1. Menulis Puisi 

    Sebelum menulis puisi, pertama -tama yang harus kita lakukan adalah menentukan tema sebab tema merupakan pokok persoalan yang akan dikemukakan dalam bentuk puisi. Tema tersebut kemudian dikembangkan dengan menentukan hal yang akan dikemukakan didalam puisi. Dalam penulisan puisi, pemilihan kata atau kalimatnya harus tepat dan bukan hanya tepat maknanya, melainkan juga harus tepat bunyi-bunyinya. Penyusunan kata-kata tersebut harus dibaut sedemikian rupa sehingga dapat menimbukan kesan estetis (indah) dan sebaiknya harus ada penggunaan majas agar puisi yang diciptakan semakin baik dan menarik.

  2. Membaca Puisi

    Cara membaca puisi terdiri atas dua macam, yaitu membaca untuk diri sendiri dan membaca untuk orang lain, dimana pada pembacaan puisi, diperlukan pemahaman dan penghayatan isi puisi yang dibacakan. Selain tu, ada pula persyaratan khusus yang harus dipenuhi yakni ekspresi, pelafalan, tekanan, dan intonasi pada pembacaan puisi.   

Demikian ulasan diatas semoga bermanfaat untuk anda dan terimakasih.
Sumber : Solatif_ Media Prestasi
Penulis : Wisnu Prajatmika

Advertisement by Google 2

Jenis - Jenis Puisi, Ciri dan Unsur - Unsur Pembangun Dalam Teks Puisi Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Edhokasilmu

0 komentar:

Posting Komentar