Konsep, Tujuan, Prinsip dan Penyelenggaraan SKS Tingkat SMP

Tempat Berbagi Dalam Berbagai Ilmu Pengetahuan

Konsep, Tujuan, Prinsip dan Penyelenggaraan SKS Tingkat SMP

Konsep, Tujuan, Prinsip dan Penyelenggaraan SKS Tingkat SMP

Berikut adalah ulasan tentang Konsep, Tujuan, Prinsip dan Penyelenggaraan SKS Tingkat SMP, yang semoga dapat menjadi ilmu yang bermanfaat dan membantu anda dalam proses mengajar di instansi tempat anda mengabdikan diri. Berikut ini ulasannya. 

A. Konsep SKS

Pada hakikatnya, SKS merupakan perwujudan dari amanat Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 12 Ayat (1). Pasal tersebut mengamanatkan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak, antara lain:  mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya/ kecepatan belajarnya; dan (f) menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpangdari ketentuan batas waktu yang ditetapkan. Sistem Kredit Semester adalah bentuk penyelenggaraan pendidikan yang peserta didiknya menentukan jumlah beban belajar dan/atau mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan/kecepatan belajar.

Penerapan SKS dalam pengelolaan pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di Indonesia merupakan suatu upaya inovasi untuk menambah kekayaan pengelolaan pembelajaran. Melalui penerapan SKS dimungkinkan peserta didik dapat menyelesaikan program pendidikan lebih cepat sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan/kecepatan belajar. Beban belajar pada SKS di SMP dinyatakan dengan jam pelajaran (JP) dengan beban keseluruhan pada tingkat SMP minimal 228 JP. 

Beban belajar 1 JP secara umum terdiri atas 40 menit kegiatan tatap muka dan maksimum 50% (sekitar 20 menit) untuk kegiatan penugasan terstruktur dan tugas mandiri tidak terstruktur. Penghitungan beban belajar dengan satuan JP mempermudah peserta didik jika mutasi ke satuan pendidikan yang menggunakan pola yang berbeda, tanpa harus dilakukan konversi.

Menurut Permendikbud Nomor 158 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Kredit Semester pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah pasal 9, secara khusus kegiatan satu jam pelajaran tatap muka dalam beban belajar bagi peserta didik yang memiliki kecepatan belajar di atas rata-rata, durasi satu jam pelajaran dapat dilaksanakan selama 30 menit.

B. Tujuan

Penyelenggaraan SKS pada Pendidikan Dasar jenjang SMP ini bertujuan untuk: memberikan layanan pendidikan yang proporsional, yaitu memperhatikan bakat, minat, kemampuan/kecepatan belajar peserta didik; memberikan layanan pendidikan yang lebih berkualitas dan menjamin hakhak peserta didik/masyarakat untuk terpenuhinya layanan pendidikan yang sesuai dengan bakat, minat, kemampuan kecepatan belajar peserta didik.

C. Prinsip

Penyelenggaraan SKS di SMP mengacu pada prinsip sebagai berikut. Fleksibel, artinya penyelenggaraan SKS harus memberikan pilihan mata pelajaran dan waktu penyelesaian masa belajar yang memungkinkan peserta didik menentukan dan mengatur strategi belajar secara mandiri. Keunggulan, artinya penyelenggaraan SKS memungkinkan peserta didik memperoleh kesempatan belajar dan mencapai tingkat kemampuan optimal sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan/kecepatan belajar.

Maju berkelanjutan, artinya penyelenggaraan SKS yang memungkinkan peserta didik dapat langsung mengikuti muatan, mata pelajaran atau program lebih lanjut tanpa terkendala oleh peserta didik lain. Keadilan, artinya penyelenggaraan SKS memungkinkan peserta didik mendapatkan kesempatan untuk memperoleh perlakuan sesuai dengan kapasitas belajar yang dimiliki dan prestasi belajar yang dicapainya secara perseorangan. 

Konsep dan Penyelenggaraan SKS Pada Satuan Pendidikan Tingkat SMP
Konsep SKS Pada Satuan Pendidikan Tingkat SMP
D. Penyelenggaraan SKS

Penyelenggaraan SKS di SMP merupakan salah satu upaya inovatif dan kreatif dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui layanan yang bervariasi untuk mengakomodasi kemajemukan peserta didik dalam hal bakat, minat, dan kemampuan/ kecepatan belajar. SKS adalah alternatif sistem belajar selain sistem paket yang dapat dilakukan oleh SMP berakreditasi A. Sistem Kredit Semester diselenggarakan melalui pengorganisasian pembelajaran bervariasi dan pengelolaan waktu belajar yang fleksibel. Pengorganisasian pembelajaran bervariasi dilakukan melalui penyediaan unit-unit pembelajaran utuh setiap mata pelajaran yang dapat diikuti oleh peserta didik.

Pengelolaan waktu belajar yang fleksibel dilakukan melalui pengambilan beban belajar untuk unit-unit pembelajaran utuh setiap mata pelajaran oleh peserta didik sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing. Pengambilan beban belajar menggunakan kriteria: a) prestasi yang dicapai pada satuan pendidikan sebelumnya untuk pengambilan beban belajar pada semester 1; atau b) Indeks Prestasi (IP) yang diperoleh pada semester sebelumnya untuk pengambilan beban belajar pada semester berikutnya.

Penyelenggara SKS harus melakukan persiapan fisik dan non fisik dalam memberikan layanan yang bervariasi dan fleksibel tersebut. Persiapan fisik berupa sarana dan prasarana yang memenuhi standar nasional. Persiapan non fisik berupa perangkat lunak yang dapat berupa program, kurikulum, dan alat evaluasi pembelajaran yang bervariasi. Satuan pendidikan penyelenggara SKS wajib menyediakan guru pembimbing akademik. Guru pembimbing akademik bertanggung jawab terhadap aspek akademik bagi peserta didik sejak semester pertama sampai dengan semester akhir.

Dalam penyelenggaraan SKS, pengelolaan waktu belajar yang fleksibel dilakukan melalui pengambilan beban belajar untuk unit-unit pembelajaran utuh setiap mata pelajaran oleh peserta didik sesuai dengan kecepatan belajar masing- masing. Peserta didik dengan kecepatan belajar dan prestasi tinggi dapat mengambil beban belajar lebih banyak dibanding dengan lainnya. Layanan pada peserta didik dapat dilakukan dengan membuat rombongan belajar tertentu dengan kecepatan belajar dan prestasi/kemampuan yang hampir sama. Pengelompokan dalam kelas secara bervariasi dapat dilakukan berdasarkan data yang diperoleh pada saat penerimaan peserta didik baru (PPDB).

- Layanan kelompok ini dilakukan secara terjadwal oleh sekolah.

1. Persyaratan

Syarat penyelenggaraan SKS di SMP adalah terakreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah dan memperoleh izin dari Dinas Pendidikan Provinsi atau Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya 

2. Penyiapan Penyelenggaraan SKS oleh Satuan Pendidikan 

Penyiapan penyelenggaraan SKS di SMP perlu mengikuti lima langkah berikut. Pertama, penyelenggaraan SKS di SMP dilakukan dengan melakukan evaluasi diri, dengan mempertimbangkan kebutuhan, kelayakan, dan ketersediaan sumberdaya pendidikan bagi keberlangsungan SKS secara optimal. Kedua, Kepala SMP memberikan informasi-informasi sosialisasi terkait rencana penyelenggaraan SKS kepada semua anggota komunitas sekolah, dalam hal ini guru, tenaga kependidikan, peserta didik dan orang tua. Ketiga, sekolah mempersiapkan perangkat lunak terkait dengan penyelenggaraan SKS di SMP, seperti program, kurikulum, dan bahan ajar. Keempat, sekolah mempersiapkan perangkat keras terkait dengan penyelenggaraan SKS di SMP, seperti prasarana, sarana, dan perangkat IT. Kelima, sekolah mempersiapkan guru-guru sebagai pelaksana sistem SKS di SMP.

3. Penetapan

- Penetapan penyelenggaraan SKS di SMP dilakukan melalui langkah berikut.

1. Sekolah mengajukan izin penyelenggaraan SKS kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Provinsi.

2. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Provinsi melakukan verifikasi kesiapan SMP untuk menyelenggarakan SKS.

3. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Provinsi menetapkan sekolah yang memenuhi syarat sebagai penyelenggara SKS.

4. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Provinsi menerbitkan Surat Keputusan sekolah penyelenggara SKS.

5. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Provinsi melaporkan SMP penyelenggara SKS ke Dirjen Dikdasmen, Dirjen GTK, dan Kabalitbang.

4. Penyelenggaraan

Penyelenggaraan SKS di SMP perlu mengikuti empat langkah berikut. Pertama, peserta didik merencanakan beban belajar dengan bimbingan Guru Pembimbing Akademik. Kedua, penyelenggara SKS melaksanakan pembelajaran sesuai dengan beban belajar yang direncanakan peserta didik. Ketiga, penyelenggara SKS melakukan penilaian hasil belajar peserta didik. Keempat, penyelenggara SKS melaporkan hasil belajar peserta didik. 

- Keragaman layanan dalam penyelenggaraan SKS di SMP antara lain adalah sebagai berikut.

a. Layanan terhadap rombongan belajar dapat dilakukan dengan pola kontinu dan diskontinu.  Pada pola kontinu setiap mata pelajaran selalu muncul tiap semester, sedangkan pola diskontinu mata pelajaran tidak harus dimunculkan tiap semester.

b. Pada layanan rombongan belajar pola kontinu, satuan pendidikan dapat menyusun variasi pembelajaran sesuai dengan kecepatan belajar peserta didik. Struktur kurikulum dapat disusun beragam, terdiri atas: 4 semester, 5 semester, 6 semester, 7 semester, dan/atau 8 semester. Struktur kurikulum 5 semester dapat dipilih jika UN sudah diselenggarakan setiap semester. Jika kurikulum 5 semester diselenggarakan dan UN belum dilaksanakan pada setiap semester, maka setelah semester 5 peserta didik dapat mengikuti pendalaman materi untuk pemantapan persiapan UN atau kegiatan lain yang bermakna bagi peserta didik.

Konsep, Tujuan, Prinsip dan Penyelenggaraan SKS Tingkat SMP
Penyelenggaraan SKS 
c. Pada layanan rombongan belajar pola diskontinu, satuan pendidikan menyusun serial mata pelajaran dengan jumlah maksimal 4 seri. Penyusuan serial mata pelajaran tidak mengubah urutan materi dan kompetensi (KI dan KD) yang tertuang pada standar isi. Pola diskontinu ini dapat diselenggarakan jika berbagai kendala teknis beban mengajar guru dan sarana penunjang telah dapat dipenuhi.

d. Konsekuensi atas keragaman tersebut adalah penyusunan silabus dan bahan ajar dalam unit-unit pembelajaran tertentu yang disusun berdasarkan perhitungan alokasi waktu, yaitu satu semester minimal 18 minggu efektif termasuk dua minggu efektif yang terpakai untuk penilaian tengah semester dan penilaian akhir semester.

e. Satuan pendidikan dengan jumlah rombongan relatif sedikit (menerima peserta didik baru sampai dengan 6 kelas) disarankan menggunakan layanan kontinu.

- Keunggulan penyelenggaraan SKS antara lain sebagai berikut. 
  • Peserta didik dapat terlayani sesuai dengan keragaman bakat, minat, dan kemampuan/kecepatan belajarnya.
  • Kemandirian peserta didik terkondisi dengan adanya pengisian KRS (kartu rencana studi) setiap semester pada saat memilih beban belajar dan mata pelajaran. 
  • Strategi menghadapi Ujian Nasional (UN) di semester 6 menjadi lebih efektif jika peserta didik telah menyelesaikan semua beban belajar di semester 5. Dengan demikian, ujian sekolah (US) sudah terlaksana pada awal semester 6, sehingga di semester 6 kegiatan peserta didik dapat difokuskan pada kegiatan pemantapan dan ujicoba persiapan UN dan seleksi masuk pada jenjang pendidikan selanjutnya. 
  • Ujian Sekolah dapat dilakukan tiap semester untuk mengurangi beban yang selama ini terpusat di semester 6. 
  • Hubungan antara peserta didik dengan pembimbing akademik (PA) lebih kuat sejak awal tahun pertama sampai dengan selesai masa studinya.
  • Tidak ada kenaikan kelas/tinggal kelas karena ketuntasan mata pelajaran dilakukan pada setiap akhir semester.
  • Motivasi belajar peserta didik lebih tinggi karena memiliki hak memilih beban belajar dan mata pelajaran tiap semester.
  • Penilaian hasil belajar lebih adil karena peserta didik tidak perlu mengulang semua mata pelajaran walaupun peserta didik belum tuntas 3 mata pelajaran atau lebih.

- Tantangan penyelenggaraan SKS di SMP antara lain adalah sebagai berikut.
  • Satuan pendidikan harus siap dengan keragaman layanan.
  • Memerlukan dukungan administrasi berbasis TIK yang memadai.
  • Jika satuan pendidikan memilih pola diskontinu, maka satuan pendidikan tersebut harus siap membuat peta distribusi jam mengajar guru untuk memenuhi tuntutan minimal jam mengajar guru.
  • Adaptasi terhadap peran dan fungsi guru Pembimbing Akademik (PA) yang berbeda dengan wali kelas.
  • Pelaksanaan UN tiap semester oleh pemerintah belum terlaksana, sehingga satuan pendidikan harus memikirkan kegiatan setelah semester 5 pada pola kontinu 5 semester.
Demikian ulasan diatas, dan semoga bermanfaat, Terimakasih.
Sumber : KEMENDIKBUD RI

Advertisement 2

Konsep, Tujuan, Prinsip dan Penyelenggaraan SKS Tingkat SMP Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Edhokasilmu

0 comments:

Post a Comment